Rabu, 30 September 2009

Suratku

Sepucuk surat tlah ku buat
Ku masukan dalam amplop puth bergaris biru

ku rapat dan ku simpan di atas meja

siap untuk di poskan besok pagi


Surat itu tentang keluhku pada Tuhan
Akan takdir yang tak kumengertian
Atas jalan hidup yang terlalu berliku
hingga ku terlalu lelah

Surat itu tentang protesku pada Tuhan
Akan peran ku yang hanya piguran
pada layar emas kehidupan>
Hingga ku tak di anggap dan teracuhkan

Surat itu tentang sedihku pada Tuhan
Akan kebodohanku yang tak mengerti
Pada narasi hidupku sendiri
yang di Buat Tuhan mengoleksi Perih


 

Minggu, 13 September 2009

kau

Ku kira kau Biru
Tapi nyatanya Abu
Kukira Kau hijau
Tapi nyatanya Ungu

Tak jua ku raba Warnamu
Karna kau Slalu berlalu
tak jua Ku Tau Auramu
Karna kau laksana menipu

Tapi ku tau kau ada
Dan slalu ada untukku
Meski tanpa warna
Mesti tanpa kata

Ku tahu kau Setia
walau ku tetap harus menerka
dimana hatimu berada.

Jumat, 04 September 2009

Sepi yang Kau tinggal

Waktu beranjak pergi
Saat ku menyapamu disini
Di tempat ini
Tempat kita pertama perkelankan diri

kini Waktu terasa terhenti
saat ku Merenung disini

di tempat ini 
Tempat yang sama saat kau beranjak pergi


Mungkin Waktu tak berpihak
Sama Seperti dirimu
Sama beranjak pergi dan Menjauh
Meninggalkan Sepi yang sesak.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes